menjadi polisi yang beriman dan bertaqwa
Rubrik : Artikel
Kumpulan Pantun Waktu Sekolah di PPRA XLVIII-12 Lemhannas R.I
2012-11-30 15:55:14 - by : zulu

JIKA KITA BERINTEGRASI,

PASTILAH KITA BERSATU,

TERIMALAH SALAM HORMAT KAMI,

ASSALAM MUALAIKUM WAROHMATULLOH HI WABARKATU.

       Ungkapan di atas adalah salah satu pantun pembuka kata ketika kita akan memulai bicara di depan teman-teman seperti ketika akan paparan di depan kelas atau para peserta PPRA 48 Lemhannas R.I ataupun di forum yang lain. Pembuka kata ini bisa juga dengan ungkapan seperti ini :

BUKANLAH TALAM SEMBARANG TALAM,

TETAPI TALAM BERLAPIS EMAS,

BUKANLAH SALAM SEMBARANG SALAM,

TETAPI SALAM MOHON KIRANYA DIBALAS.

ASS. WR. WB.

       Kemudian ungkapan sebelum paparan di depan kelas bisa juga kita kemukakan seperti ini :

JALA DITEBAR MENANGKAP IKAN,

IKAN DIMASAK DALAM KUALI,

IJINKAN KAMI MENYAMPAIKAN PAPARAN,

PAPARAN UNTUK KESEKIAN KALI.

       Kemudian dalam perjalanan diskusi kita bisa saja menyampaikan pantun seperti ini :

KUPETIK DAUN KUJADIKAN KERTAS,

KUAMBIL RANTING BUAT TULISAN,

REKAN-REKAN SUNGGUHLAH CERDAS-CERDAS,

JIKA BERTANYA BAGIKU MENGERIKAN.

       Kemudian kita bisa menutup kata dengan mengungkapkan seperti;

TUGAS KITA DI SINI SEKOLAH,

UNTUK MEMBEKALI DIRI,

JIKA ADA KATA-KATA KAMI SALAH,

MOHON MAAF DARI KAMI.

 

Kurang lebih 9,5 bulan kita bersama Peserta Pendidikan Reguler Angkatan Lemhannas R.I (PPRA XLVIII) sekolah bersama mendalami berbagai ilmu pengetahuan di Lemhannas R.I sejak tanggal 20 Maret 2012 sampai dengan 13 Desember 2012. Jumlah kami ketika masuk 82 orang yang bersumber dari berbagai institusi, seperti TNI, Polri, Kementerian/ Lembaga, Partai Politik, Akademisi atau Universitas, Organisasi Massa seperti organisasi kewartawanan dan juga berasal dari manca negara. Teman-teman dari manca negara berjumlah 8 (delapan) orang yang berasal dari Aljasair atau Algeria, Australia, Yordania, Thailand, Philipina, Mali dan Zimbawbe yang dalam perjalanan teman kita dari Mali dikembalikan kenegaranya karena ada persoalan tertentu. Begitu juga dalam perjalan akhir pembelajaran kita, tiga diantara teman kita sebangsa dan setanah air tidak bisa mengikuti sampai akhir pendidikan, walaupun sudah banyak kenangan yang terpatri dalam masa pembelajaran kita yang dapat kita lihat dari berbagai ungkapan kata-kata pantun yang ada.

Pelajaran yang dipelajari selama di Lemhannas tentu saja bagaimana berbagai anak bangsa ini dapat menjadi pemimpin nasional sesuai dengan bidang mereka masing-masing ataupun profesi dan gatra masing-masing dengan mampu menjadi pemimpin yang dapat bekerja secara komprehensif, integral dan holistik bersama berbagai komponen bangsa yang ada untuk memajukan negeri Indonesia atau mensejahterakan rakyat Indonesia serta mampu berperan di pora internasional yang dinamis sebagai bentuk dari ketahanan nasional kita. Metode pembelajaran dilakukan dengan off campus yaitu melalui chating dan on campus dengan metode ceramah, diskusi, penulisan konsep dalam bentuk essay blok, kertas karya acuan, kertas karya kelompok, kertas karya perorangan (Taskap), seminar, studi strategi dalam negeri dan luar negeri dan lain-lain.

Dalam proses pembelajaran tersebut, sebagai salah satu peserta dalam berbagai pembelajaran, ceramah, diskusi dan lain-lain sebagai salah satu bentuk budaya Indonesia, telah menggunakan cara-cara berkomunikasi menggunakan pantun. Beberapa pantun yang kami sempat gunakan dalam sekolah di Lemhannas ini antara lain sebagai contoh di atas dan selebihnya sebagai mana di bawah ini nanti.

Sesungguhnya ketika kami coba mengumpulkan pantun-pantun sekolah ini kami sangat terkejut, karena jumlahnya cukuplah banyak yang terkadang membawa pikiran saya, berarti saya selama sekolah disini belajar beneran atau cuma menulis pantun saja..., he... he... he..., saya pastikan tentu saja belajar beneran, seperti rekan-rekan yang lain tentunya, tapi sambil iseng ketika mau bicara memakai pantun.

Pengumpulan pantun-pantun sekolah ini sesungguhnya karena didesak oleh beberapa rekan sesama peserta (dan ada juga tutor) yang sesekali meminta dibuatkan pantun yang mungkin pantun itu tidak tertulis di sini, karena pantun yang tertulis di sini adalah yang tercatat dan catatannya masih ada, sedangkan yang catatannya diberikan kepada rekan-rekan atau sudah hilang tentu saja tidak tercatat disini. Semoga saja catatan pantun-pantun ini sebagai inspirasi bagi rekan-rekan kelak setelah kembali ke tempat pengabdian masing-masing. Ketika rekan-rekan menjadi Menteri, Dirjen, Sekjend, Direktur, Gubernur, Bupati, Panglima, Kapolda, Rektor, Dekan, Pimpinan Partai, Ormas, sesekali mungkin mengajar atau sebagai dosen di kelas ataupun sering menjadi nara sumber dalam seminar, dapatlah menggunakan pantun sebagai breaking ice atau sekedar pembuka kata.

INDAHNYA KITA PUNYA NEGERI,

JIKA PEJABATNYA BERLAKU SANTUN,

SUNGGUHLAH SENANG HATIKU INI,

JIKA REKAN-REKAN SERING MENGGUNAKAN PANTUN.

Adapun sebagian pantun yang tertulis dalam lembar-lembar penugasan, kertas karya acuan ataupun buku-buku catatan yang masih ada dapat dilihat dan disimak di bawah ini nanti. Pencatatan pantun ini sudah tidak berurutan lagi sesuai masa kita pembelajaran, tetapi sudah “mengacak” dikarenakan sesuai dengan apa yang ditemukan pada saat pengumpulan. Tetapi menyimak isi pantun tersebut semoga saja dapat mencerminkan atau membawa angan rekan-rekan ke suasana kenangan pada masa saat kita didalam kelas maupun dimanapun kita berada pada saat itu. Saya sendiri ketika mengetik pantun-pantun ini sungguh membuka kenangan saya. Inilah kenangan itu : KLIK DISINI.


 

menjadi polisi yang beriman dan bertaqwa : http://polisiku.net
Versi Online : http://polisiku.net/article/93/kumpulan-pantun-waktu-sekolah-di-ppra-xlviii-12-lemhannas-ri.html